penduduk menurut jenis kegiatan tahun 2008-2010

1.1       Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran

 

Tabel 1.1

Penduduk Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2008–2010

(juta orang)

Jenis Kegiatan

2008

2009

2010
  Februari Agustus Februari Agustus Februari
1. Penduduk

227,52

229,03

230,37

231,83

233,24

2. Penduduk 15+

165,57

166,64

168,26

169,33

171,02

3. Angkatan Kerja

111,48

111,95

113,74

113,83

116,00

Bekerja

102,05

102,55

104,49

104,87

107,41

 Pengan ggur

9,43

9,39

9,26

8,96

8,59

4. Bukan Angkatan Kerja

54,09

54,69

54,52

55,49

55,02

5.Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)

67,33

67,18

67,60

67,23

67,83

6. Tingkat Pengangguran Terbuka (%)

8,46

8,39

8,14

7,87

7,41

7.Setengah Pengangguran

30,64

31,09

31,36

31,57

32,80

Terpaksa

14,60

14,92

15,00

15,40

15,27

Sukarela

16,05

16,17

16,36

16,17

17,53

 

1.2             Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

 

Tabel 1.2

Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Tahun 2008–2010 (juta orang)

Lapangan pekerjaan utama

2008

2009

2010

Februari

Agustus

Februari

Agustus

Februari

Pertanian

42,69

41,33

43,03

41,61

42,83

Industri

12,44

12,55

12,62

12,84 1

13,05

Konstruksi

4,73

5,44

4,61

5,49

4,84

Perdagangan

20,68

21,22

21,84

21,95

22,21

Transportasi, pergudangan dan komunikasi

6,01

6,18

5,95

6,12

5,82

Keuangan

1,44

1,46

1,48

1,49

1,64

Jasa kemasyarakatan

12,78

13,10

13,61

14,00

15,62

Lainnya

1,27

1,27

1,35

1,39

1,40

Total

102,05

102,55

104,49

104,87

107,41

Lapangan pekerjaan utama/sektor lainnya terdiri dari: Sektor Pertambangan, Listrik, Gas dan Air

1.3            Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

 

Tabel 1.3

Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

Tahun 2008–2010 (juta orang)

Status pekerjaan utama

2008

2009

20010

Berusaha sendiri

20,08

20,92

20,81

21,05

20,46

Berusaha dibantu tidak tetap

21,60

21,77

21,64

21,93

21,92

Berusaha dibantu buruh tetap

2,98

3,02

2,97

3,03

3,02

Buruh/karyawan

28,52

28,18

28,91

29,11

30,72

Pekerja bebas dipertanian

6,13

5,99

6,35

5,88

6,32

Pekerja bebas di nonpertanian

4,80

5,29

5,15

5,67

5,28

Pekerja keluarga

17,94

17,38

18,66

18,19

19,68

Jumlah

102,05

102,55

104,49

104,87

107,41

 

1.4       Penduduk yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja

 

Tabel 1.4

Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Perminggu

Tahun 2008–2010 (juta orang)

Jumlah jam kerja perminggu

2008

2009

2010

 

Februari

Agustus

Februari

Agustus

Februari

1-7

1,69

1,23

1,58

1,31

1,48

8-14

5,03

4,41

4,97

4,56

4,81

15-24

11,09

11,23

11.43

11,64

11,97

25-34

12,84

14,23

13,38

14,01

14,54

1-34

30,64

31,11

31,36

31,57

32,80

35+(1)

71,41

71,44

73,12

73,30

74,60

Jumlah

102,05

105,55

104,49

104,87

107,41

(1)   Termasuk sementara tidak bekerja

1.5       Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan

Pada bulan Februari 2010, jumlah penduduk yang bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk semua golongan pendidikan mengalami kenaikan jika dibandingkan keadaan Agustus 2009.

 

Tabel 1.5

Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2008–2010

(juta orang)

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan

2008

2009

2010

 

Februari

Agustus

Februari

Agustus

Februari

SD ke bawah

55,62

55,33

55,43

55,21

55,31

Sekolah menengah pertama

19,39

19,04

19,85

19,39

20,30

Sekolah menengah keatas

13,90

14,39

                   15,13

14,58

15,63

Sekolah menengah kejuruan

6,71

6,76

7,19

8,24

8,34

Diploma I/II/II

2,66

2,87

2,68

2,79

2,89

Universitas

3,77

4,15

                       4,22

4,66

4,94

Jumlah

102,05

102,55

104,49

104,87

107,41

 

1.6       Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan

 

Tabel 1.6

Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Tahun 2008–2010 (persen)

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan

2008

2009

2010

 

Februari

Agustus

Februari

Agustus

Februari

SD ke bawah

4,70

4,57

4,51

3,78

3,71

Sekolah menengah pertama

10,05

9,39

9,38

8,37

7,55

Sekolah menengah keatas

13,69

14,31

12,36

14,50

11,90

Sekolah menengah kejuruan

14,80

17,26

15,69

14,59

13,81

Diploma I/II/II

16,35

11,21

15,38

13,66

15,71

Universitas

14,25

12,59

12,94

13,08

14,24

Jumlah

8,46

8,39

8,14

7,87

7,41

 

1.7         Jumlah Pengangguran dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Provinsi

 

Tabel 1.7

 Jumlah Pengangguran dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Provinsi Tahun 2009–2010

 

 

Provinsi

2009

2010

Februari

Agustus

Februari

Jumlah (ribuan)

TPT

(persen)

Jumlah

(ribuan)

TPT

(persen)

Jumlah (ribuan)

TPT

(persen)

 Aceh

173,6

9,31

165,4

165,4

166,

8,60

Sumatra Utara

521,6

8,25

532,4

532,4

512,8

8,01

Sumatra Barat

172,3

7,90

173,1

7,97

172,1

7,57

R i a u

206,5

8,96

193,5

8,56

169,2

7,21

J a m b i

69,9

5,20

73,9

5,54

60,1

4,45

Sumsel

292,2

8,38

263,5

7,61

237,1

6,55

Bengkulu

46,1

5,31

42,1

5,08

35,7

4,06

Lampung

230,9

6,18

240,0

6,62

223,5

5,95

Bangka Belitung

26,8

4,82

33,1

6,14

23,3

4,24

Riau

52,2

7,81

55,3

8,11

50,7

7,21

DKI Jakarta

570,6

11,99

569,3

12,15

537,5

11,32

Jawa Barat

2 257,7

11,85

2 079,8

10,96

2 031,6

10,57

Jawa Tengah

1 208,7

7,28

1 252,3

7,33

1 174,9

6,86

Yogyakarta

123,0

6,00

121,0

6,00

124,4

6,02

Jawa Timur

1 193,6

5,87

1 033,5

5,08

1 012,0

4,91

Banten

663,9

14,90

652,5

14,97

627,8

14,13

B a l i

60,4

2,93

66,5

3,13

75,6

3,57

Nusa Tenggara Barat

124,9

6,12

131,3

6,25

122,8

5,78

Nusa TT

65,2

2,78

89,4

3,97

83,3

3,49

Kalimantan Barat

127,2

5,63

119,7

5,44

125,2

5,50

Kalimantan Tengah

49,0

4,53

48,4

4,62

42,7

3,88

Kalimantan Selatan

118,4

6,75

115,8

6,36

108,7

5,89

Kalimantan  Timur 

165,1

11,09

158,2

10,83

160,5

10,45

Sulawesi Utara

114,5

10,63

111,0

10,56

112,6

10,48

Sulawesi Tengah

63,2

5,11

66,0

5,43

63,0

4,89

Sulawesi  Selatan

296,6

8,74

314,7

8,90

284,4

7,99

Sulawesi Tenggara

53,1

5,38

47,3

4,74

49,3

4,77

Gorontalo

23,4

5,06

26,4

5,89

24,5

5,05

Sulawesi Barat

25,4

4,92

23,1

4,51

22,4

4,10

Maluku

61,2

10,38

63,0

10,57

57,0

9,13

Maluku Utara

29,1

6,61

28,6

6,76

25,5

6,03

Papua Barat

27,9

7,73

26,6

7,56

28,6

7,77

Papua

45,0

4,13

46,0

4,08

47,6

4,08

 

9 259,0

8,14

8 962,6

7,87

8 592,5

7,41

 

 

       I.            Teori tentang Pengangguran

 

2.1.      Teori Philips A.W

Kurva Phillips A.W Phillips seorang ekonomi yang berasal dari London, melakukan pengamatan pada kondisi perekonomian di Inggris terutama mengenai upah pekerja dan tingkat pengangguran Inggris antara tahun. Berdasarkan pengamatan tersebut, Phillip menemukan kenyataan bahwa perubahan tingkat upah akan berbanding terbalik dengan perubahan tingkat pengangguran.Semakin tinggi upah maka pengangguran menjadi semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah upah, maka pengangguran juga semakin bertambah.

Kurva Phillip bukanlah tradeoff  yang sudah tetap. Saat tingkat inersia dari inflasi berubah, kurva Phillip juga ikut berubah. Edmund Phelps dan Milton Friedman kemudian melakukan modifikasi pada teori kurva Phillip dan menemukan bahwa kurva Phillip pada gambar 1 hanya menggambarkan situasi  jangka pendek. Pada kondisi jangka panjang, terdapat tingkat pengangguran minimum pada inflasi yang tetap. Hal ini disebut sebagai tingkat pengangguran wajar terendah (lowest sustainable unemployment rate/ LSUR), beberapa pakar ekonomi menyebutnya sebagai tingkat pengangguran alami. LSUR adalah suatu tingkat dimana naik turunnya harga dan inflasi upah ada pada titik setimbang. Pada LSUR, inflasi stabil, tanpa adanya tendensi yang menunjukkan peningkatanatau penurunan. LSUR merupakan tingkatan terendah yang dapat terjadi dalam jangka panjang tanpa adanya kenaikan pada inflasi.

Gambar : Pergerakan tingkat pengangguran terhadap inflasi pada kurva Phillip

 

 

  1. Pada periode pertama, pengangguran ada pada tingkat normal. Tidak terjadi permintaan atau penawaran yang mencolok.
  2. Peningkatan yang cepat pada output selama ekspansi ekonomi menurunkan tingkat pengangguran. Seiring menurunnya pengangguran, firma cenderung untuk merekrut pekerja lebih banyak lagi, memberikan peningkatan upah yang lebih besar dari biasanya. Saat output ingin melebihi potensinya, utilisasi kapasitas meningkat dan penggelembunagn dana menigkat. Upah dan harga mulai naik.
  3. Dengan naiknya inflasi,maka perusahaan dan pekerja akan mengharapkan inflasi yang lebih tinggi. Harapan inflasi yang lebih tinggi tampak dalam keputusan upah dan harga. Tingkat ekspektasi inflasi lalu meningkat.
  4. d.      Pada periode akhir, dengan melambatnya perekonomian, kontraksi pada kegiatan ekonomi membawa output kembali ke potensinya semula, dan tingkat pengangguran kembali ke tingkat wajar. Perlu dicatat, karena tingkat ekspektasi atau inersia inflasi meningkat

2.2            Teori Keynes

Teori keynes dalam Kusnedi ( 2001: 38-39) menyatakan teorinya berhubungan dengan semua tingkat kesempatan kerja yang mungkin terjadi (full Employment maupun Under Employment). Kemudian masalah-masalah ekonomi seperti pengangguran dan Inflasi dusebabkan oleh karena masalah Effective Demand atau Permintaan Agregat. Tingginya tingkat pengagguran adalah cermin dari rendahnya Permintaan Agregat sedangkan tingginya tingkat Inflasi adalah cermin dari tingginya Permintaan Aggregat.

Jadi teori Keynes menitikberatkan kepada Demand Side sebagai unsur aktif yang menggerakkan perekonomian. Keynes dalam Muana Nanga (2001 : 40-41) menyatakan bahwa: perekonomian swasta pada dasarnya tidak stabil (Fundamentally Unstable) dan penuh dengan ketidak pastian(Uncertainty), dan bahwa kondisiyang ideal atau normal dari perekonomian (normal State of the economy) adalah keseimbangan di bawah kesempatan kerja penuh (less than full employment equilibrium).

Tingkat output keseimbangan menurut keynes bergantung pada Permintaan Agregat(Ad) yang merupakan penjumlahan nilai pasar dari permintaan konsumsi rumah tangga (C), permintaan oleh sektor bisnis akan barang-barang modal (I), permintaan oleh sektor luar negeri akan barang-barang ekspor dan impor (X-M). Apabila permintaan Agregat dalam suatu perekonomian terlalu rendah, artinya berada dibawah tingkat output Full  Employment (Yn), maka akan mendorong perekonomian berada dalam kondisi keseimbangan dengan pengangguran tenaga kerja (Equilibrium with Unemployment).

Pengeluaran Agregat yaitu pembelanjaan masyarakat atas barang-barang jasa, dalah faktor utama yang menetukan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai suatu negara. Seterusnya Keynes berpendapat bahwa dalam sistem pasar bebas penggunaan tenaga kerja penuh tidak selalu tercipta sehingga diperlukan usaha dan kebijakan pemerintah untuk menciptakan penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh (Sadono sukirno,2004 :7).

 

    II.            ANALISIS

 

2.1  Analisis Menurut Pandangan Secara Konvensional

 

3.1.1    Aspek Ekonomi

Analisis pengangguran pada bulan Februari dan Agustus tahun 2008-2010 secara ekonomi dapat di lihat dari mikro ekonomi dan makro ekonomi.Secara mikro ekonomi kita bisa menganalisisnya dari Supply dan Demand. Sedangkan secara makro ekonomi kita bisa melihatnya dari faktor penyebabnya kenaikan atau penurunan jumlah angkatan kerja maupun jumlah pengangguran.

  1. 1.         Tabel 1.1 Penduduk Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2008–2010

Dilihat dari bulan Februari 2010, jumlah angkatan kerja mencapai 116 juta orang naik 2,17 juta orang dibanding keadaan Agustus 2009 dan naik 2,26 juta orang dibanding keadaan Februari 2009. Dan Jumlah penganggur pada Februari 2010 mengalami penurunan sekitar 370 ribu orang jika dibanding keadaan Agustus 2009 dan mengalami penurunan 670 ribu orang jika dibanding keadaan Februari 2009. Peningkatan jumlah tenaga kerja serta penurunan angka pengangguran telah menaikkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 0,23 persen selama periode satu tahun terakhir.

Secara mikro ekonomi Dari sini kita bisa lihat Demand dan Supply yang sama-sama seimbang. Sebab sudah banyak penduduk yang bekerja yang mengalami peningkatan sebanyak 2,92 juta pada bulan Februari 2009-Februari 2010 dan bertambah penduduk pekerja 2,54 juta orang pada bulan Agustus 2009-Februari 2010 dan berkurangnya pengangguran sehingga mereka sama-sama memiliki pendapatan untuk membeli barang produksi dengan kata lain angkatan kerja naik pengangguran turun sehingga Demand= supply.

Secara makro ekonomi peningktan angkatan kerja pada bulan Februari 2009-2010 dan bulan Agustus 2009-Februari 2010 disebabkan oleh tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai dan skill dari masing-masing orang yang sesuai dengan lapangan pekerjaan yang ada sehingga menurunkan pengangguran ini berkaitan dengan adanya kebijakan moneter dari pemerintah atas barang publik.

  1. 2.        Tabel 1.2 Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2009, jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2010 mengalami kenaikan terutama di Sektor Jasa Kemasyarakatan sebesar 1,62 juta orang (11,52 persen) dan Sektor Pertanian sebesar 1,22 juta orang (2,92 persen). Secara mikro ekonomi orang yang bekerja di sektor in Demand dan Supply nya sama-sama meningkat sebab adanya pertambahan pekerja. Namun secara makro konsumsinya akan semakin meningkat sebab mereka sudah memiliki pendapatan sehingga dengan adanya pendapatan perkapita tersebut maka esejahteraan mereka pada sektor ini juga akan semakin meningkat.  Sedangkan Sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah Sektor Konstruksi sebesar 650 ribu orang (11,70 persen) dan Sektor Transportasi sebesar 300 ribu orang (4,91 persen). Jika dibandingkan dengan Februari 2009 tidak semua sektor mengalami kenaikan jumlah pekerja. Sektor-sektor yang mengalami penurunan jumlah pekerja adalah Sektor Transportasi sebesar 130 ribu orang (2,19 persen) dan Sektor Pertanian sebesar 200 ribu orang (0,47 persen).Sektor Jasa Kemasyarakatan, Industri dan Perdagangan menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja pada bulan Februari 2010. Jadi secara mikro ekonomi Demand dan Supply pada keadaan seperti ini mengalami signifikan yang tidak menentu. Artinya pada sektor tertentu Demand dan Suply akan sama-sama naik atau sama-sama turun. Namun juga pada sektor tertentu juga keadaan Demand dan Supply salah satunya terkadang naik ataupun turun. Secara makro ekonomi adanya kenaikan dan penurunan tenaga kerja di beberapa sektor tersebut akan berpengaruh pada tingkat output dan GDP yang mampu dihasilkan oleh masing-masing sektor serta ketersediaannya input (kapital,labourt,SDA)  yang akan digunakan se efisien mungkin agar tidak mengalami scarcity(kelangkaan).kenaikan dan penurunan tenaga kerja pada maing-masing sektor di akibatkan dari banyanyaknya skill yang sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.

  1. 3.        Tabel 1.3 Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

Secara sederhana kegiatan formal dan informal dari penduduk yang bekerja dapat diidentifikasi berdasarkan status pekerjaan. Dari tujuh kategori status pekerjaan utama, pekerja formal mencakup kategori berusaha dengan dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan, sisanya termasuk pekerja informal. Berdasarkan dentifikasi ini, maka pada Februari 2010 sekitar 33,74 juta orang (31,42 persen) bekerja pada kegiatan formal dan 73,67 juta orang (68,58 persen) bekerja pada kegiatan informal.Dari 107,41 juta orang yang bekerja pada Februari 2010, status pekerjaan utama yang terbanyak sebagai buruh/karyawan sebesar 30,72 juta orang (28,61 persen), diikuti berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 21,92 juta orang (20,41 persen), dan berusaha sendiri sejumlah 20,46 juta orang (19,05 persen), sedangkan yang terkecil adalah berusaha dibantu buruh tetap sebesar 3,02 juta orang (2,81 persen).Dalam satu tahun terakhir (Februari 2009–Februari 2010) terdapat penambahan pekerja dengan status buruh/karyawan sebesar 1,81 juta orang dan pekerja keluarga sebanyak 1,02 juta orang. Sementara itu pada status pekerja bebas di pertanian terjadi penurunan sebesar 30 ribu orang.

Jadi secara mikro ekonomi Demand dan Supply bagi buruh /karyawan akan bergerak sesuai dengan pendapatan yang di milikinya.  Dengan adanya penambahan karyawan maka akan menaikkan Demand dan menurukan Supply sebab mereka hanya bekerja di sebuah instansi saja tanpa mampu menghasilkan barang produksi. Sedangkan secara makro ekonomi. dengan adanya peningkatan buruh maka akan meningkatkan upah. Dengan meningkatnya upah maka akan berdampak pada pengangguran. Artinya jika upah naik maka pengangguran akan turun sedangkann jika upah turun maka pengangguran naik sesuai dengan teori Philips, dimana upah dan pengangguran itu berbanding terbalik (negatif). Jadi buruh sangat berpengaryuh sekali terhadap pertumbuhan ekonomi dalam aspek kesejahteraan masyarakat.

  1. 4.        Tabel 1.4 Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Perminggu

Secara umum, komposisi jumlah orang yang bekerja menurut jam kerja perminggu tidak mengalami perubahan berarti dari waktu ke waktu, namun ada kecenderungan peningkatan jumlah pekerja pada kelompok 35 jam keatas. Pada Februari 2010, pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam perminggu porsinya relatif kecil yaitu hanya 1,48 juta orang atau sekitar 1,38 persen dari total penduduk yang bekerja (107,41 juta orang). Penduduk yang dianggap sebagai pekerja penuh waktu (full time worker), yaitu pekerja pada kelompok 35 jam keatas jumlahnya mencapai 74,60 juta orang (69,46 persen).

Secara mikro ekonomi jumlah jam bekerja akan menentukan pendapatan dari seseorang. Semakin lama dia bekerja maka semakin banyak tingkat pendapatan yang dia miliki sehingga akan berpengaruh pada Demand dan Supplynya. Artinya untuk pekerja yang memiliki  jam kerja lebih banyak , akan mampu menghasilkan Supply lebih tinggi di bandingkan  Demandnya akan berkurang sebab dikaitkan dengan faktor waktu yang digunakan. Secara makro ekonomi adanya pembedaan tenaga kerja dari segi waktunya  dikaitkan karena agar lebih efisien mungkin dalam bekerja sehingga mampu untuk menghasilkan tingkat output yang lebih tinggi yang akn berpengaruh pada fiskal policy dan investasi.

  1. 5.        Tabel 1.5 Penduduk Usia 15 Ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2008–2010

Pada Februari 2010, pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap tinggi yaitu sekitar 55,31 juta orang (51,50 persen) sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil. Ini terjadi secara mikro karena faktor keinginan yang sangat tinggi meskipun tidak di dampingi dengan skill yang ada. Secara makro, keadaan seperti ini bisa kita lihat dari faktor konsumsi yang harus dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Mereka menganggap bahwa kebutuhan mereka lebih besar di bandingkan dengan kebutuhan orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan Pekerja dengan pendidikan Diploma hanya sebesar 2,89 juta orang (2,69 persen) dan pekerja dengan pendidikan Sarjana hanya sebesar 4,94 juta orang (4,60 persen). Penyerapan tenaga kerja dalam enam bulan terakhir (Agustus 2009–Februari 2010) masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah. Sebab pendidikan yang rendah di anggap lebih lincah di bandingkan dengan pendidikan yang lebih tinggi.

  1. 6.        Tabel 1.6 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Jumlah pengangguran pada Februari 2010 mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja. Secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana TPT Februari 2010 sebesar 7,41 persen turun dari TPT Agustus 2009 sebesar 7,87 persen dan TPT Februari 2009 sebesar 8,14 persen. Jika dibandingkan keadaan Agustus 2009 TPT untuk semua tingkat pendidikan mengalami penurunan kecuali TPT untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,05 persen dan 1,16 persen. Hal ini diduga karena lapangan kerja yang tersedia belum mensyaratkan pendidikan tinggi. Pada semester ini, TPT untuk pendidikan Diploma mendominasi, yaitu sebesar 15,71 persen.

  1. 7.        Tabel 1.7 Jumlah Pengangguran dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Provinsi

Pada Februari 2010, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta masing-masing sebesar 14,13 persen dan 11,32 persen. Hal ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah tersebut serta pertambahan penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga dengan adanya pertambahan penduduk yang semakin meningkat dengan tidak di barengi dengan lapangan pekerjaan menyebabkan  jumlah pengangguran yang semakin tinggi AD dan AS tidak terkendali. sedangkan tingkat pengangguran terendah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Bali masing-masing sebesar 3,49 persen dan 3,57 persen. Ini terjadi karena sudah terkendalinya fungsi pemerintah di daerah tersebut sehingga dengan begitu PDBnya akan naik. Dengan naiknya PDB maka dapat mengurangi jumlah pengangguran itu sendiri.  Dibandingkan pada Bulan  Agustus 2009, penurunan terbesar untuk persentase tingkat pengangguran terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan tingkat penurunan sebesar 1,9 persen dimana sudah mulai tercipta lapangan pekerjaanyang memadai dan sesuai dengan kemampuan orang-orang di Bangka Belitung dan yang mengalami peningkatan terbesar Provinsi Bali dengan peningkatan sebesar 0,4 persen.

2.2  Analisis Pengangguran Menurut Pandangan Islam

Ketika kita membaca kata pengangguran maka akan terlintas dalam benak fikiran adalah orang-orang pengangguran baik pengangguran terdidik maupun tidak terdidik. Betapa banyak pengangguran di negeri kita sekarang ini. Tetapi dalam system ekonomi Islam pengangguran bukanlah sejumlah orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, tetapi mereka-mereka yang tidak memanfaatkan potensi dirinya untuk berbuat yang terbaik bagi lingkungannya. pengangguran disebabkan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal. Secara internal factor utama adalah masih kenatlnya sikap manja dan malas bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Dengan sikap manja itulah maka kerja keras menjadi susah dilakukan. Sementara dari factor eksternal adalah berkembanganya ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berimbas pada proses peralihan penggunaan tenaga manusia berlebihan, digantikan dengan tehnologi modern. Akibatnya banyak tenaga manusia yang tidak terserap. Untuk mengantisipasi itu semua maka entrepreneurship menjadi tawaran solutif bagi para mahasiswa senior sebelum terjun langsung di tengah masyarakat.

Untuk itu Allah S.W.T menyerukan kepada umatnya untuk selalu berusaha dalam segala hal apapun, baik itu dalam hal mencari nafkah dengan tidak meminta-minta. Selama nfkah itu halal Allah meRidhoi apapun yang di kerjakan oleh kita sebagai umat muslim. Sebagai  umat islam kita selalu memandang bahwa orang yang tidak bekerja itu merupakan orang yang malas untuk bekerja dan ini tidak di benarkan oleh agama .

 

 III.            Kesimpulan

Dari data yang telah di paparkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2010 mengalami kenaikan terutama di Sektor Jasa Kemasyarakatan sebesar 1,62 juta orang (11,52 persen) dan Sektor Pertanian sebesar 1,22 juta orang (2,92 persen). Salah satu penyebabnya adalah banyaknya jumlah lapangan pekerjaan yang di sediakan oleh Pemerintah. Sedangkan jumlah  pengangguran yang terjadi di Indonesia pada bulan Februari –Agustus tahun 2009-2010 dapat di lihat dari jumlah penggangguran terbuka dari setiap provinsi. Yaitu  Pada Februari 2010, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta masing-masing sebesar 14,13 persen dan 11,32 persen. Hal ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah tersebut serta pertambahan penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s