TINGKAT PENGANGGURAN DI INDONESIA TAHUN 1980-2007

BAB. I

PENDAHULUAN

              Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan

menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (Amri Amir, 2007). Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak (Todaro, 1988). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi

kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun (Tulus T.H. Tambunan, 2009).

Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut

(ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi

pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan (Tulus T.H. Tambunan, 2009). Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau GDP yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP, yang berarti peningkatan Pendapatan Nasional.

Berdasarkan data BPS menunjukkan jumlah penduduk indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun-ketahun. Dimulai pada tahun 1980 sebesar 146.777.000 sampai pada tahun 2007 sebesar 224.904.000 jiwa (BPS, 1980 dan 2007). Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan jumlah pengangguran, hal ini menunjukkan kenaikan jumlah penduduk tidak terserap ke lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran pun naik. Pengangguran di Indonesia menjadi masalah yang terus menerus membengkak. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen. Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran dalam skala yang wajar. Dalam negara maju, tingkat penganggurannya biasanya berkisar antara 2 – 3 persen, hal ini disebut Tingkat pengangguran alamiah. Tingkat pengangguran alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang alamiah dan tak mungkin dihilangkan. Artinya jika tingkat pengangguran paling tinggi 2 – 3 persen itu berarti bahwa perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) (Sadono Sukirno, 2008). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut  semakin membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus semakin tinggi.

 

Persentase Tingkat Pengangguran, Tingkat Inflasi, Persentase Pertumbuhan

Tingkat Upah, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pertumbuhan Angkatan Kerja

Pada Periode 10 Tahun

Tahun 1998 – 2007

 

tahun

Tingkat pengangguran

Tingkat inflasi

Pertumbuhan upah (persen)

Pertumbuhan ekonomi (persen)

Pertumbuhan angkatan kerja (persen)

1998

5.46

77.63

_

_

­_

1999

6.38

2.01

18.96

0.79

2.27

2000

6.08

9.4

22.94

5.35

8.47

2001

8.01

12.6

35.31

3.64

3.3

2002

9.06

10.03

18.09

4.50

1.99

2003

9.51

5.08

14.43

4.78

-0.45

2004

9.86

6.4

15

5.03

3.64

2005

10.26

17.11

11.2

5.69

1.75

2006

10.27

6.6

13.54

5.50

0.55

2007

9.11

6.59

11.73

6.35

3.33

 

 

BAB. II

PEMBAHASAN

  1. A.    Keadaan Penduduk Indonesia

pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak selalu mengalami pertumbuhan positif. Hal ini dapat dilihat di tahun 1990 dan 2000, Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif. Pada tahun 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar -0,22 persen. Hal ini

dikarenakan pemerintah berhasil menekan angka pertumbuhanpenduduk di tahun tersebut dengan program Keluarga Berencana (KB). Pada tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk sebesar -3,69 persen yang disebabkan oleh perubahan perhitungan sensus yang tidak menghitung populasi penduduk timor-timur, sehingga penduduk berkurang. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.1, pada gambar tersebut jumlah pengangguran cenderung mengalami pertambahan, begitu juga dengan jumlah penduduk, walaupun pertumbuhan cenderung stabil tetapi jumlah dari penduduk Indonesia selalu bertambah (hanya pada tahun 1990 dan 2000 yang mengalami penurunan jumlah penduduk). Kecenderungan searah ini mengindikasikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk secara tidak langsung berhubungan dengan bertambahnya pengangguran.

 

BAB. III

 

PERMASALAHAN

Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan, tingkat inflasi, serta besaran upah yang berlaku. Apabila di suatu negara pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan, diharapkan akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran, hal ini diikuti dengan tingkat upah. Jika tingkat upah naik akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran pula.

Sedangkan tingkat inflasi yang tinggi akan berpengaruh pada kenaikan jumlah pengangguran (Sadono Sukirno, 2008).

Kasus permasalahan pengangguran di Indonesia dirasa sudah cukup parah bagi pembangunan

Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi.

SOLUSI

1        Jalan keluar dalam menghadapi pengganguran sulit di pecahkan  karna kebijakan pemerintah kurang siknifikan dimana antara lapangan kerja dan pekerja lebih banyak orang yang membutuhkan kerja sedang kebijakan pemerintah sangat terbatas di karnakan anggaran pemerintah yang sendah.

2        Perlu adanya campur tangan pemerintah dimana daerah yang tingkat pengangguran lebih tinggi pemerintah sangat berperan memberikan kebijakan dalam hal memperluas lapangan pekerjaan industri dan perlu adanya pelatihan terhadap masyarakat setempat agar nantinya industri tersebut bisa di kelola oleh masyarakat setemapat dengan baik dan produk yang berkuwalitas.

3        Mengurangi tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap pengguran ketika inflasi semakin tinggi maka harga-harga akan menguat  naik yang akan berdamapk terhadap buruh industri adanya PHK yang berkelanjutan. Dikarnakan perusahan tidak dapat membeli bahan mentah sehingga perusahan mengurangi tenaga kerja.

BAB. I

PENDAHULUAN

              Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan

menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (Amri Amir, 2007). Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak (Todaro, 1988). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi

kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun (Tulus T.H. Tambunan, 2009).

Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut

(ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi

pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan (Tulus T.H. Tambunan, 2009). Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau GDP yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP, yang berarti peningkatan Pendapatan Nasional.

Berdasarkan data BPS menunjukkan jumlah penduduk indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun-ketahun. Dimulai pada tahun 1980 sebesar 146.777.000 sampai pada tahun 2007 sebesar 224.904.000 jiwa (BPS, 1980 dan 2007). Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan jumlah pengangguran, hal ini menunjukkan kenaikan jumlah penduduk tidak terserap ke lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran pun naik. Pengangguran di Indonesia menjadi masalah yang terus menerus membengkak. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen. Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran dalam skala yang wajar. Dalam negara maju, tingkat penganggurannya biasanya berkisar antara 2 – 3 persen, hal ini disebut Tingkat pengangguran alamiah. Tingkat pengangguran alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang alamiah dan tak mungkin dihilangkan. Artinya jika tingkat pengangguran paling tinggi 2 – 3 persen itu berarti bahwa perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) (Sadono Sukirno, 2008). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut  semakin membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus semakin tinggi.

 

Persentase Tingkat Pengangguran, Tingkat Inflasi, Persentase Pertumbuhan

Tingkat Upah, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pertumbuhan Angkatan Kerja

Pada Periode 10 Tahun

Tahun 1998 – 2007

 

tahun

Tingkat pengangguran

Tingkat inflasi

Pertumbuhan upah (persen)

Pertumbuhan ekonomi (persen)

Pertumbuhan angkatan kerja (persen)

1998

5.46

77.63

_

_

­_

1999

6.38

2.01

18.96

0.79

2.27

2000

6.08

9.4

22.94

5.35

8.47

2001

8.01

12.6

35.31

3.64

3.3

2002

9.06

10.03

18.09

4.50

1.99

2003

9.51

5.08

14.43

4.78

-0.45

2004

9.86

6.4

15

5.03

3.64

2005

10.26

17.11

11.2

5.69

1.75

2006

10.27

6.6

13.54

5.50

0.55

2007

9.11

6.59

11.73

6.35

3.33

 

 

BAB. II

PEMBAHASAN

  1. A.    Keadaan Penduduk Indonesia

pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak selalu mengalami pertumbuhan positif. Hal ini dapat dilihat di tahun 1990 dan 2000, Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif. Pada tahun 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar -0,22 persen. Hal ini

dikarenakan pemerintah berhasil menekan angka pertumbuhanpenduduk di tahun tersebut dengan program Keluarga Berencana (KB). Pada tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk sebesar -3,69 persen yang disebabkan oleh perubahan perhitungan sensus yang tidak menghitung populasi penduduk timor-timur, sehingga penduduk berkurang. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.1, pada gambar tersebut jumlah pengangguran cenderung mengalami pertambahan, begitu juga dengan jumlah penduduk, walaupun pertumbuhan cenderung stabil tetapi jumlah dari penduduk Indonesia selalu bertambah (hanya pada tahun 1990 dan 2000 yang mengalami penurunan jumlah penduduk). Kecenderungan searah ini mengindikasikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk secara tidak langsung berhubungan dengan bertambahnya pengangguran.

 

BAB. III

 

PERMASALAHAN

Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan, tingkat inflasi, serta besaran upah yang berlaku. Apabila di suatu negara pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan, diharapkan akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran, hal ini diikuti dengan tingkat upah. Jika tingkat upah naik akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran pula.

Sedangkan tingkat inflasi yang tinggi akan berpengaruh pada kenaikan jumlah pengangguran (Sadono Sukirno, 2008).

Kasus permasalahan pengangguran di Indonesia dirasa sudah cukup parah bagi pembangunan

Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi.

SOLUSI

1        Jalan keluar dalam menghadapi pengganguran sulit di pecahkan  karna kebijakan pemerintah kurang siknifikan dimana antara lapangan kerja dan pekerja lebih banyak orang yang membutuhkan kerja sedang kebijakan pemerintah sangat terbatas di karnakan anggaran pemerintah yang sendah.

2        Perlu adanya campur tangan pemerintah dimana daerah yang tingkat pengangguran lebih tinggi pemerintah sangat berperan memberikan kebijakan dalam hal memperluas lapangan pekerjaan industri dan perlu adanya pelatihan terhadap masyarakat setempat agar nantinya industri tersebut bisa di kelola oleh masyarakat setemapat dengan baik dan produk yang berkuwalitas.

3        Mengurangi tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap pengguran ketika inflasi semakin tinggi maka harga-harga akan menguat  naik yang akan berdamapk terhadap buruh industri adanya PHK yang berkelanjutan. Dikarnakan perusahan tidak dapat membeli bahan mentah sehingga perusahan mengurangi tenaga kerja.

BAB. I

PENDAHULUAN

              Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan

menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (Amri Amir, 2007). Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak (Todaro, 1988). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi

kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun (Tulus T.H. Tambunan, 2009).

Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut

(ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi

pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan (Tulus T.H. Tambunan, 2009). Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau GDP yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP, yang berarti peningkatan Pendapatan Nasional.

Berdasarkan data BPS menunjukkan jumlah penduduk indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun-ketahun. Dimulai pada tahun 1980 sebesar 146.777.000 sampai pada tahun 2007 sebesar 224.904.000 jiwa (BPS, 1980 dan 2007). Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan jumlah pengangguran, hal ini menunjukkan kenaikan jumlah penduduk tidak terserap ke lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran pun naik. Pengangguran di Indonesia menjadi masalah yang terus menerus membengkak. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen. Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran dalam skala yang wajar. Dalam negara maju, tingkat penganggurannya biasanya berkisar antara 2 – 3 persen, hal ini disebut Tingkat pengangguran alamiah. Tingkat pengangguran alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang alamiah dan tak mungkin dihilangkan. Artinya jika tingkat pengangguran paling tinggi 2 – 3 persen itu berarti bahwa perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) (Sadono Sukirno, 2008). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut  semakin membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus semakin tinggi.

 

Persentase Tingkat Pengangguran, Tingkat Inflasi, Persentase Pertumbuhan

Tingkat Upah, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pertumbuhan Angkatan Kerja

Pada Periode 10 Tahun

Tahun 1998 – 2007

 

tahun

Tingkat pengangguran

Tingkat inflasi

Pertumbuhan upah (persen)

Pertumbuhan ekonomi (persen)

Pertumbuhan angkatan kerja (persen)

1998

5.46

77.63

_

_

­_

1999

6.38

2.01

18.96

0.79

2.27

2000

6.08

9.4

22.94

5.35

8.47

2001

8.01

12.6

35.31

3.64

3.3

2002

9.06

10.03

18.09

4.50

1.99

2003

9.51

5.08

14.43

4.78

-0.45

2004

9.86

6.4

15

5.03

3.64

2005

10.26

17.11

11.2

5.69

1.75

2006

10.27

6.6

13.54

5.50

0.55

2007

9.11

6.59

11.73

6.35

3.33

 

 

BAB. II

PEMBAHASAN

  1. A.    Keadaan Penduduk Indonesia

pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak selalu mengalami pertumbuhan positif. Hal ini dapat dilihat di tahun 1990 dan 2000, Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif. Pada tahun 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar -0,22 persen. Hal ini

dikarenakan pemerintah berhasil menekan angka pertumbuhanpenduduk di tahun tersebut dengan program Keluarga Berencana (KB). Pada tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk sebesar -3,69 persen yang disebabkan oleh perubahan perhitungan sensus yang tidak menghitung populasi penduduk timor-timur, sehingga penduduk berkurang. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.1, pada gambar tersebut jumlah pengangguran cenderung mengalami pertambahan, begitu juga dengan jumlah penduduk, walaupun pertumbuhan cenderung stabil tetapi jumlah dari penduduk Indonesia selalu bertambah (hanya pada tahun 1990 dan 2000 yang mengalami penurunan jumlah penduduk). Kecenderungan searah ini mengindikasikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk secara tidak langsung berhubungan dengan bertambahnya pengangguran.

 

BAB. III

 

PERMASALAHAN

Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan, tingkat inflasi, serta besaran upah yang berlaku. Apabila di suatu negara pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan, diharapkan akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran, hal ini diikuti dengan tingkat upah. Jika tingkat upah naik akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran pula.

Sedangkan tingkat inflasi yang tinggi akan berpengaruh pada kenaikan jumlah pengangguran (Sadono Sukirno, 2008).

Kasus permasalahan pengangguran di Indonesia dirasa sudah cukup parah bagi pembangunan

Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi.

SOLUSI

1        Jalan keluar dalam menghadapi pengganguran sulit di pecahkan  karna kebijakan pemerintah kurang siknifikan dimana antara lapangan kerja dan pekerja lebih banyak orang yang membutuhkan kerja sedang kebijakan pemerintah sangat terbatas di karnakan anggaran pemerintah yang sendah.

2        Perlu adanya campur tangan pemerintah dimana daerah yang tingkat pengangguran lebih tinggi pemerintah sangat berperan memberikan kebijakan dalam hal memperluas lapangan pekerjaan industri dan perlu adanya pelatihan terhadap masyarakat setempat agar nantinya industri tersebut bisa di kelola oleh masyarakat setemapat dengan baik dan produk yang berkuwalitas.

3        Mengurangi tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap pengguran ketika inflasi semakin tinggi maka harga-harga akan menguat  naik yang akan berdamapk terhadap buruh industri adanya PHK yang berkelanjutan. Dikarnakan perusahan tidak dapat membeli bahan mentah sehingga perusahan mengurangi tenaga kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s